Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

Senja

Puisi Idrus Tintin

Seorang lelaki tua berjalan dalam gerimis. Waktu itu senja akhir tahun yang layu. Petang basah melengkung runduk menciumnya pada pipi. Bercermin pada genangan air nampak bekasnya warna kesumba.
Kita dapat melihatnya dengan menyingkapnya kain jendela ini sedikit. Karena kau mau lebih jelas, kubuka jendela besar-besar: derit engselnya menyebabkan ia menoleh ke sini.
Marilah kita tunggu ketukan di pintu. Marilah kita tunggu ia tiba. Biar kusediakan the secangkir lagi, dan tambahlah kue-kue, jangan yang ini, ya, yang lembut-lembut itu yang sesuai dengan kerentaannya.
“Selamat sore,” katanya.
“Selamt sore,’ jawab kita.
Gerimis di luar semakin tipis. Mega berbentuk kuda lewat di jendela, sempat mengigit pelangi dan membawanya lari. Gerimis pun habis. Detak detik jam menitik di atas meja.
“Hari sudah hampir gelap,” kata orang tua itu.
“Karena hujan,” kataku.
“Tidak,” katanya lagi, “hari sudah hampir malam.”
Aku bangkit memasang lampu. Teranya berwarna susu, mengusir remang ruangan dan hati kita.
Ia mengangkat cangkir ke bibir, mengesip manis air teh dan tinggalkan pahitnya dalam cangkir, dan berkata, “Kelahiran dimulai dengan tanggis, dan jalan tangis itu cukup panjang.”
Tinta malam telah mengecat kaca jendela. Selekeh jelaganya mengenai jendela.
Di ujung lorong ini tidak ada lampu, kata orang itu lagi. “Aku akan meraba-raba mencari rumahku. Tapi kita tak perlu takut pada gelap. Pada mulanya adalah gelap, lalu datang terang kemudian malap, dan akhirnya kita akan masuk kembali ke tempat asal. Sederhana dan tak terelakkan.”
Ia bangkit dan berkata, “Selamat Malam!”
Orang tua itu berjalan dalam malam. Ia melangkah tertatih-tatih menuju ke ujung lorong.





Idrus Tintin, lahir di Rengat, Riau, 10 November 1932. Penyair sekaligus tokoh teater di Riau ini, menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 14 Juli 2003 di usia 71 tahun.
Baca Selanjutnya... >>

Sabtu, 15 Oktober 2011

Perjanjian denganmu, ya Allah

Puisi Dasri Al-Mubari

Mengapa menara yang kita dirikan?
bila kaki terhimpit pilarnya
mengapa bukan bangun kincir
sehingga riak telaga jadi samudra

kita terlanjur suka gemerlap neon
sedang kabelnya dibiarkan konslet di gedung
kota-kota adalah gugusan bintang
kita ciptakan dari hati yang kelam

belajarlah dengan bahasa daun
saat hening
bersahabat dengan angin
gunung
dan kerikil-kerikil telaga
burung pun bernyanyi
embun bersenggayut di reranting
belajarlah dengan bahasa daun
dari krisik gugur
terciptalah kehidupan baru


Semasa hidupnya Dasri Al-Mubari dikenal juga sebagai teaterawan Riau. Dengan ketunakannya mengasuh Sanggar Teater Bahtera UNRI. 
Baca Selanjutnya... >>

Kamis, 13 Oktober 2011

Nyanyian Wangkang

Puisi Ediruslan Pa Amanriza

1
Dalam suatu pelayaran dari utara
Sebuah wangkang tersadai
Dihempas badai
Terkatung-katung berhari-hari
Di pesisir pulau yang sepi
Entah malam ke berapa
Seorang pelaut bermimpi
Dewa Laut datang
Menunjukkan jazirah yang mereka cari

Mereka berdebat berhari-hari
Ada yang percaya banyak yang tidak
Karena tak ada yang pandai menafsirkan mimpi
Mereka bertanya ke Dewa Api
Dengan membakar wangkang dan sekoci

Wangkang dikisar menghadapat matahari
Layar di kembang di tiang tinggi menjulang
panji-panji dipasang pada tali temali
Wangkang nampak semarak
Siap mengarungi lautan mimpi
Pelaut-pelaut cina itu tegak melingkar
Di gigir pantai yang sepi
Masing-masing memegang api

Seorang Saikong tua berjubah merah
Berdiri di depan memegang cemeti dan lonceng api
Cemetinya bertangkai tanduk
Hulunya berukir naga bertangkap
Jubahnya longgar dan dalam
Tepinya mencecah ke lumpur pantai

Setelah membaca doa
Dia melecutkan cemetinya ke langit
Suaranya seperti lautan api
Terasa pedih di hati

Dengan mudah
Ujung cemeti itu ditangkapnya kembali
Pelaut-pelaut cina itu terdiam
Merekan hanya mendengar desah nafas masing-masing

Tiba-tiba ada suara tinggi melengking
Bagai sebilah pedang tajam menebas gendang telingga

Perlahan-lahan suara itu lenyap ditelan gemuruh laut yang jauh
Lalu lengking jeritan itu terdengar kembali

Saikong tua memandang ke laut yang jauh
Dia menjura beberapa kali
Pelaut-pelaut cina itu mengikutinya
Menjura beberapa kali
Saikong tua kemudian melafaskan doa
Bacaanya makin lama semakin jelas
Pelaut-pelaut cina itu mengikutinya
Makin lama semakin keras
Sambil menggerakkan kepala
Seperti ratib
Ke kiri ke kanan
Suara bacaan semakin meninggi
Kian gemuruh
Kian gengap gempita
Saikong tua melecutkan semetinya sekali lagi
Tarasa pedih di hati
Tarasa negilu di tulang
Menyibak darah di dada
Suara bacaan tiba-tiba berhenti

Lalu sunyi
Seakan ditelan bumi
Pesisir panti itu seakan mati
Tak ada desir angin
Tak ada debur ombak
Tak terdengar cicit burung laut
Sunyi

Saikong tua mengangkay dagunya
Mendongak ke langit yang tiada bertepi
Lalu menjura beberapa kali
Lonceng kecil di tangannya berbunyi
Pertanda Dewa Api mengiyakan
Pelaut-pelaut cina itu pun
Satu persatu
Melemparkan api di tangan
Ke dalam wangkang

Mereka menatap api
Marak menjilat wangkang
Menyilam garang
Meletup-letup bagai bunyi cance dan genderang
Seakan khotbah Dewa Api
Yang mereka iyakan sembari menjura
Sambil meminta
tampuk
Sambil meminta
tampuk
Wangkan itu kini hitam jadi arang
Tiang-tiangnya tumbang ke laut dan ke darat
Saikong berseru
Benar inilah jazirah yang kita cari
Seperti yang dikatakan Dewa Laut
Pelaut-pelaut itu bersorak gemuruh
Lalu mereka rambah hutan bakau dan berembang
Mereka arung air sedalam pinggang
Mereka bangun rumah
pelantar
dan jermal

Laut kembali bergelora
Menenggelamkan bangkai wangkang ke dasar samudra
Angin berhenbus kembali
Membawa suara cicit burung pantai
dan kulik elang pertanda pasang
Lalu terdengar suara gemuruh
Seperti seribu ekor kuda berlari dari laut yang jauh
Burung bangau pun terbang
Meninggalkan beting-beting lumpur yang hilang
Ditelan pasang

2
Aku melihat badai di selat
Laut yang dahulunya tenang
Tiba-tiba keini penuh amarah
Dikirimnya lidah gelombang pasang yang garang
Menjilat pantai
Daratan dan
Desa kami yang diam

Percikan debur ombaknya
Menghempas dendam hingga ke malam sepi
Hingga ke dalam mimpi
Hingga basah bantal cintaku yang kekal

Aku melihat ada roh yang bangkit
Dari berjuta-juta raga yang sakit
Sembari menadahkan tangan
Dalam bayangan cahaya bulan

Oh duka laut
Berdarah kembali
Kilatan pedang dendamnya
Seperti kayu
Semakin dekat ke api

3
Api unggun di pantai pun padam
Suara-suara roh yang terjaga terdiam
Asap yang mengepul dari sisa
Puntung yang hitam
Seakan terlihat seperti doa mereka
Memanjat awan
Dalam bayangan cahaya bulan

Bayangan cahaya bulan membiaskan gelap
Hutan-hutan bakau di pantai
Dari dalam sepinya ada berjuta suara mengerang
Meratapi raga mereka yang dibuai gelombang pasang
Lalu badai mengirimkan gerimis
Di tengah selat yang penuh amarah
Bagai air mata berjuta roh
Rindu akan laut yang teduh

4
Air pasang adalah berkah kampung kami
Datang dan naik bersama bulan
Surut dan mati bersama bulan

Ketika mendengar suara beno
Berlari dari laut yang jauh
Burung-burung bagau ke beting
Terbang bersempiaran
Ikan-ikan kecil
Temakul
Ketam
Menyuruk ke dalam lanyau
Selat dan sungai pun menggeliat
Seakan naga terjaga

Kehidupan pun seakan baru dimulai
Sampn-sampan nelayan
Tongkan atau wangkang
Toako atau cici
Tongkang besi
Sampan kotak
Dengan muatan sarat
Merapat dan
Bertolak

Gemuruh suara mereka
Carut marut
Sumpah seranah
Dalam bahasa Hok Kian
Tai Chu
Hai Lam dan
Melayu
Kulik elang
Suara lonceng
Sepeda atau beca
Semuanya memberi pertanda
Kampung kami terjaga

Air pasang adalah berkah kampung kami
Datang dan naik bersama bulan
Surut dan mati bersama bulan

Bila angin berhembus
Dari bangsal dan pelantar
Kau ciumlah bau samak
Rebus udang atau anyir ikan
Bau bumbu atau belacan
Aroma kampung kami yang silam



1996
(Gambar dari sagangonline)
Baca Selanjutnya... >>

Rabu, 12 Oktober 2011

Ziarah

Puisi Hafney Maulana

kudatang pada Mu
mencari embun antara deru
mesin pabrik
luka-luka kubalut dengan sejadah
dalam sujud
dimana hudhud
hinggap di pundakku
dengan paruh bismillahnya
ia bentangkan jalan
shiratal mustaqin

dari lembah aku merangkak
di atas bukit kenyataan
dimana tubuhku
adalah perlawanan
yang disamarkan
semakin samar
kubasuh lukaku dengan embun
di mawar yang Kau hidupkan
mengukir zarrah
dari noktah zikir yang mengalir
dalam darah
mata-mata ikan
hingga mengkristal
jadi tasbih


Enok, Januari 1999
Baca Selanjutnya... >>

Selasa, 11 Oktober 2011

Puisi Ibrahim Sattah


KAKI

ada kaki kaki kau ada kuku kuku kau
ada katak katak kau ada kuda kuda kau ada kuli kuli kau
tokek
kuku kuli kuku kau kaki kulu kaki kau
kaki kuda kaki kau kuku kuda kuku kau
kuku katak kuku kau
kaki katak kaki kau
tokek

kaki ke kanan jauh ke depan jauh ke matahari
mendaki kekiri ke
punca ke
mana
kaki ka pai ka ma katamu kataku kaki ka pai lai
kaki ka pai ka ma katamu kataku
kaki ka pai ka ma katamu
kataku kaki
 ka pai
juo
kaki kemana kita katamu kataku diamlah kau
kaki kau kaki katak kuku katak kuku kau
kuku kuda kuku kau kaki kuda kaki
kau
kaki kuli kaki kau kuku kuli kuku
kau
tokek

sebut sekian kaki satu sekian kaki kau
sebut sekian kali kali sekian kaki
kau
sebut sekian depa berapa rimba ke kau
sebut sekian dupa berapa mantra ke
kau
sebut sekian kata
berapa doa ke
kau
sebut sebanyak rumput sebut sebanyak mulut
tumpakan tuak
biar bijak
jejak ke
kau
ke mana kita katamu
kataku diamlah
kau

Baca Selanjutnya... >>

Wahai Pemuda Mana Telurmu?

Puisi Sutardji Calzoum Bachri

Apa gunanya merdeka
Kalau tak bertelur?
Apa gunanya bebas
Kalau tak menetas?  
Wahai bangsaku   
Wahai Pemudaku   
Mana telurmu?
Burung
Jika tak bertelur
Tak menetas
Sia-sia saja terbang bebasnya   
Kepompong menetaskan
kupu-kupu   
Kuntum membawa bunga   
putik jadi buah
Buah menyimpan biji
menyimpan mimpi
menyimpan pohon
dan bunga-bunga   
Uap terbang menetas awan   
Mimpi jadi, sungai pun jadi   
menetas jadi   
Hakekat lautan
Setelah ku pikir-pikir
Manusia
ternyata burung berpikir   
Setelah ku renung-renung   
Manusia adalah   
Burung menrenung
Setelah bertafakur
Tahulah aku
Manusia
Harus bertafakur   
Burung membuahkan telur   
Telur menjadi burung   
Ayah menciptakan anak   
Anak melahirkan ayah
Wahai para pemudaku
Menetaslah
wahai Garuda
lahirkan lagi
Bapak bagi bangsa ini  ! 
Menetaslah
seperti dulu   
Para pemuda
bertelur emas
Menetas Kau
Dalam Sumpah Merdeka

Baca Selanjutnya... >>

Senin, 10 Oktober 2011

KEMANA KAU MENGHALA

Puisi Syaukani Al Karim


Akulah tebing yang menggilai suara deburmu, 
bermusim-musim kecewa aku menanti kabar dari jilatan riak, 
tapi buih yang sampai hanya mengabarkan kisah: 
ombak telah menjalin kasih dengan angin di sempadan hatiku yang ingin. 

“Kapankah dapat kuhanyutkan sesaji rindu, 
badai mengaburkan tuju, 
sedang waktu-waktu pasang yang menghempas 
tak pernah mengirimkan isyarat.” 

Kau masih saja bertahan sebagai laut, 
saban hari melukis kaki langit dengan garis yang berbeda, 
menggoreskan dawat-dawat harapan dengan kuas rindu yang gagap: 
membuat coretan-coretan yang tak dapat kuterjemahkan dengan sekedar tatapan 

Engkau terus menjelma jadi laut, 
kian menyamudera, 
dan perahu kecilku yang berlayar mengirim tanda tak dapat menyembulkan api. 
Badai dan gunung gelombang menggulungnya ke dasar yang paling purba, 
dan kita tak dapat bertukar isyarat, 
meski dengan segaris cahaya. 

Di laut mana lagi aku mesti menunggu, 
jika di setiap tebing pedih menating, 
pada kakilangit manakah harus kuletakkan impian 
jika setiap garis yang terlukis hanya menawarkan tangis. 

“Ketika senja datang dengan lembayung memerah, 
ketika cericit camar bersahutan dengan gemuruh gelombang, 
ketika itulah kuantar isyarat tanpa syarat,” katamu 

Tapi sudah tak terbilang luas laut yang kutimang, 
entah berapa dasar yang kujelang mengenangkan kenang, 
namun tuju pergimu hanya menyisakan arah 
yang mati pada tiap janji 

Entah berapa palung yang sudah kuarung, 
tak terhitung tanjung yang dikunjung, 
namun pada daun-daun bakau yang gugur hanya kutemukan sigau yang siur, 
dan pada jalan setapak tempat citra pernah berjejak, 
telah kering ditimpa panas 
yang lebih membahang dari sekedar seabad kemarau 

Entah berapa teluk yang telah diseluk, 
sudah tak terbaca samudera yang kupeta. 
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, 
dan tahun-tahun perjalanan 
membibitkan kepedihan yang lebih luas dari hamparan kesunyian 

Oh, kemanakah kau menghala, 
aku sudah mencarimu di lorong-lorong kasih yang putih, 
di ruang-ruang sayang yang membentang, 
di rumah cinta yang purna, 
tapi kelebatmu menggelap tak terbaca. 
Aku seperti seorang kelana yang berjauh dari segenap kampung 

Kemanakah kau menghala, 
aku telah mencarimu di tapak-tapak pertemuan kenangan, 
di rumah-rumah sejarah yang bersepah sumpah, 
di peta-peta kusam yang kau lukis dengan tangis, 
tapi tak terbekas langkahmu yang tegas. 
Kau seperti bingkas dari jerat tangkas yang pungkas, 
hilang lenyap ditelan keluasan sang senyap 

Ke manakah kau menghala, 
aroma rindu yang pernah kau sebarkan kian mewangi dalam diri, 
singgah tak tersanggah di hatiku yang gundah. 
Wahai, ke manakah kau menghala, 
aku telah mengirim beribu pesan pada setiap dermaga, 
tapi dermaga menjawabnya dengan sepi 
“Tak ada tali yang menambat diri, selain sunyi yang bahri.” 
Baca Selanjutnya... >>